Kehidupan ini indah selalu mengahadirkan berbagai banyak pelajaran, singkat cerita saya bersama istri mencoba untuk naik kereta api lokal meskipun perjalanannya hanya sampai ke Jakarta. Pengalaman pertamakalinya tentu membuat hati senang, kami bermaksud untuk menukar jadwal keberangkatan pulang kampung kami ke rumah orang tua istri di Ngawi-Jawa Timur, yang mulanya berangkat di bulan Oktober harus dipending ke bulan November, meskipun perubahan jadwal itu menambah administrasi lagi sebesar 25%, tapi untuk bersilaturahmi ke orangtua apapun diusahakan.
Setelah satu minggu dari pemesanan tiket itu, kami berencana untuk mengurusnya sesegera mungkin, maka awal Septemberlah kita merencanakan untuk ke tempat penukaran tiket online yang mengharuskan kami pergi ke Jakarta, tepatnya Stasiun Pasar Senen. Di awal bulan September itu kami ketinggalan kereta, karena kami datang terlambat ke lokasi setelah ada kepentingan untuk mengantar adik saya ke tempat saudara. Maka kami beralaih untuk menggunakan bus, setelah kami mendapatkan tempat duduk kami berubah pikiran lagi karena di rasa tidak efektif, maka kami turun dari bus lima menit sebelum keberangkatan.
Setelah dua minggu berlalu maka kami berencana kembali untuk memakai kereta lokal ke Jakarta, alhamdulillah kali ini kami datang cepat, tapi tiket keretanya yang sudah habis, karena notabenenya tiket itu di jatah untuk setiap stasiun, masya allah saya mengedus nafas sejenak. kami pun terpaku di depan loket yang bertuliskan tiket habis untuk Jakarta Kota. Mengamati calon penumpang yang sedang menunggu kereta tiba, banyak kesibukan yang bermacam-macam ada yang sabar menunggu, ada yang gelisah dan ada yang bingung karena tidak dapat jatah tiket.
Kejadian ini membuat saya berfikir kalau saja tujuan kita akhirat, maka apa kita akan meninggalkan sholat tepat waktu, dan amalan-amalan lain yang bernilai pahala. Diibaratkan tujuan kita akhirat dan ibadah sebagai kendaraannya, maka harus tahu stasiun mana saja yang harus dilewati dan kapan kita akan berhenti di stasiun tujuan. Akhiratpun seperti itu ibadah apa saja yang harus dilakukan, amal baik apa yang harus di tempuh dan siapa saja orang-orang yang bisa membantu untuk mencapai tujuan akhirat yaitu syurga yang paling tinggi.
Malu lah terhadap diri kita yang senantiasa mendahulukan urusan dunia.
Terimakasih istriku sayang umi putri, yang rela untuk ikut naik kereta,dengan kondisi kereta ekonomi negeri Indonesia.
Kejadian ini membuat saya berfikir kalau saja tujuan kita akhirat, maka apa kita akan meninggalkan sholat tepat waktu, dan amalan-amalan lain yang bernilai pahala. Diibaratkan tujuan kita akhirat dan ibadah sebagai kendaraannya, maka harus tahu stasiun mana saja yang harus dilewati dan kapan kita akan berhenti di stasiun tujuan. Akhiratpun seperti itu ibadah apa saja yang harus dilakukan, amal baik apa yang harus di tempuh dan siapa saja orang-orang yang bisa membantu untuk mencapai tujuan akhirat yaitu syurga yang paling tinggi.
Malu lah terhadap diri kita yang senantiasa mendahulukan urusan dunia.
Terimakasih istriku sayang umi putri, yang rela untuk ikut naik kereta,dengan kondisi kereta ekonomi negeri Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar